Berjuang Untuk Buruh Migran

“Saya berharap, selain bisa bertanggung jawab pada anak-anak saya, saya juga bisa terus berjuang untuk hak dan kesejahteraan para buruh migran.”

“Saya orang tua tunggal, ibu dari 2 orang anak. Agar bisa terus menghidupi mereka, pada tahun 2005, saya memutuskan untuk datang ke Singapura dan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Lebih dari 10 tahun tinggal di sini, saya sudah beberapa kali ganti majikan. Majikan saya yang sekarang orangnya sangat baik dan sangat mengerti aktivitas saya. Pekerjaan saya sehari-hari adalah menyiapkan perlengkapan sekolah, mengantar anak yang paling kecil sekolah, bersih-bersih, masak, mencuci, dan menyetrika pakaian. Saya dibebaskan mengatur jadwal saya sendiri. Meski gaji saya sudah di atas standar, saya masih sedikit kesulitan untuk menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung. Seringkali kebutuhan saya dan kebutuhan kedua anak saya lebih besar daripada simpanan saya.

Selain menjadi asisten rumah tangga, saya juga menjadi relawan di Humanitarian Organization for Migration Economics (HOME). HOME adalah sebuah organisasi amal yang didedikasikan untuk membantu para buruh migran di Singapura. Setiap hari Minggu, saya biasa menghabiskan waktu di kantor HOME. Saya bagian dari tim helpdesk, yang tugasnya mendengarkan masalah yang dihadapi para buruh migran, memberitahu hak-hak dan opsi yang mereka punya, serta membantu mereka mencari bantuan profesional jika diperlukan. Terkadang, saya juga mengikuti forum / diskusi tentang permasalahan para pekerja.

Meski tidak berpendidikan tinggi, dengan menjadi relawan, saya merasa bahwa saya bisa berkontribusi dan membantu orang banyak. Ini semua membuat hidup saya menjadi lebih berarti. Saya berharap, selain bisa bertanggung jawab pada anak-anak saya, saya juga bisa terus berjuang untuk hak dan kesejahteraan para buruh migran.”

Novia, 40, Lumajang