Bekerja Demi Anak-Anak

“Saya sangat sedih harus berhubungan jarak jauh tapi syukurlah, komunikasi saya dan anak-anak tetap lancar.”

“Menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) bukanlah cita-cita saya. Saya bekerja di sini dikarenakan keadaan. Suami saya meninggal. Setelah sakit 1,5 tahun, kemoterapinya yang ke 5 gagal, dan kanker membawanya pergi untuk selamanya. Total biaya yang dihabiskan mencapai ratusan juta rupiah.

Tapi kehidupan harus terus berjalan. Saya mempunyai 2 anak laki-laki yang harus tetap sekolah dan tumbuh sebagaimana layaknya. Anak saya yang pertama baru saja lulus SMK, sedangkan anak saya yang kedua masih kelas 4 SD. Mereka berdua berada di Indonesia sekarang. Saya sangat sedih harus berhubungan jarak jauh tapi syukurlah, komunikasi saya dan anak-anak tetap lancar.

Sudah hampir 2 tahun saya bekerja menjadi asisten rumah tangga di sini, merawat seorang nenek yang demensia. Merawat orang demensia sungguh membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Majikan saya baik tapi sangat overprotektif. Saya tidak mendapat satu hari libur pun, serta tidak diperbolehkan menggunakan telepon genggam. Tapi saya tetap bekerja karena gajinya sebanding. Saya bisa menabung sedikit penghasilan saya dan kalau sudah cukup modal, saya bercita-cita membuka usaha kuliner di Indonesia. Saya berencana pulang dan tinggal di Indonesia sebelum anak saya yang paling kecil masuk SMP, supaya bisa melihat tumbuh kembangnya.”

SW, 39, Pati