Bukan gampang saat menyara keluarga dari jauh

“Terlalu sulit ketika kita mengambil alih sebagai tulang punggung dari seluruh keluarga”

Saya telah bekerja sejak saya masih muda. Saya berasal dari keluarga miskin. Saya berasal dari Jawa Timur. Sulit untuk bisa bekerja di Indonesia dan pembayarannya tidak begitu baik. Kita bekerja sangat keras akan tetapi jumlah yang di terima pada hari akhir masih tidak sesuai dengan beban kerja. Jadi, saya memutuskan untuk pindah ke negara lain untuk mencari masa depan yang lebih baik untuk menghidupi keluarga saya.

Saya sudah menikah. Memiliki 6 anak. Suami saya tidak dapat bekerja karena kecelakaan yang melibatkan dia di lokasi konstruksi di Indonesia. Saya pindah ke Malaysia, saya bekerja sebagai pembersih di perusahaan perusahaan ini di Kuala Lumpur. 10 tahun saya bekerja di Malaysia. Setiap bulan tanpa gagal, saya akan mentransfer uang untuk mendukung keluarga saya yang mana suami dan anak-anak saya. Sangat sulit ketika menikah tetapi harus menjauh dari keluarga untuk memberikan kelayakan mereka di masa depan yang lebih baik.

Apa yang membuat saya sangat sedih ialah ketika sebagai seorang ibu, saya tidak dapat melihat perkembangan anak-anak saya. Saya hanya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menepati janji di mana saya tidak ingin mereka mengalami situasi yang pernah saya hadapi sebelumnya.

Setelah 10 tahun bekerja di Malaysia. Saya membuat keputusan di mana saya ingin mencari peluang kerja di Singapura. Saya suka bekerja di Malaysia hanya saja saya ingin lebih banyak uang untuk membesarkan anak-anak saya. Semuanya sekarang berada di sekolah dasar.

Di sini, di singapura, saya bekerja sebagai pembantu. Majikan saya benar-benar memperhatikan saya. Hidup di Singapura benar-benar berbeda dibandingkan dengan Indonesia. Banyak hal yang saya pelajari. Tahun ini akan menjadi tahun ke 5 saya bekerja di Singapura. Semua dilalui bersama  selama 16 tahun terpisah dari keluarga. Saya harus mengatakan bahwa itu sulit ketika adalah satu-satunya dalam keluarga yang berjuang untuk masa depan keluarga. Memikirkan kembali itu sungguh melelahkan, tetapi apa lagi yang harus dilakukan. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang semestinya. Jika saya berhenti, siapa yang akan bertanggung jawab? Tabungan saya semua untuk keluarga saya dan untuk masa depan mereka. Saya sangat berharap biisa hidup untuk masa depan yang lebih baik suatu hari nanti. ”

Kartika, 48 tahun, Jawa Timur