Seorang Wanita Seperti Aku

“Dan di situlah saya bertemu dengan pacar saya saat ini, seorang pria dari Nepal. Sulit bagi kami untuk berbicara karena masalah bahasa tapi itu bukan masalah bagi kami. “

“Saya masih menyembunyikan hubungan saya dengan pacar saya dari orang tua saya Karena saya khawatir mereka tidak dapat menerima keputusan saya untuk menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan dari Indonesia. Beberapa tahun sebelum saya datang ke Malaysia, saya dijodohkan dengan seorang pria dari kampung halaman saya dan saya menolak untuk menerima lamarannya. Saya merasa bahwa saya masih muda dan banyak cabaran menanti saya. Ibu saya sangat kecewa dengan keputusan saya dan saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya akan membuktikan pada mereka bahwa saya mampu untuk membiaya hidup saya sendiri, karena itu saya memutuskan untuk bekerja di Malaysia.

Awalnya saya pikir mudah mendapatkan pekerjaan bagus di Malaysia tapi sebenarnya sangat sulit mendapatkan pekerjaan bagus, gaji dan pengertian yang baik dari majikan. Saya diambil untuk bekerja di sebuah toko kelontong dan saya bersyukur memiliki majikan yang sangat memahami. Dan di situlah saya bertemu dengan pacar saya saat ini, seorang pria dari Nepal. Sulit bagi kami untuk berbicara karena masalah bahasa tapi itu bukan masalah bagi kami. Dia dan saya bekerja sama di toko dan kami memiliki banyak kesamaan termasuk mencari sumber kehidupan untuk keluarga kami di kampung halaman kami.

Saya masih tidak berpikir untuk menikah meski pacar saya mengusulkan saya untuk menjadi istrinya. Saya khawatir dengan kondisi ibu dan ayah saya di desa. Mungkin mereka tidak yakin dengan keputusan saya untuk menikah atau mereka berpikir bahwa kandidat yang saya pilih tidak cocok menjadi menantu mereka. Masih banyak hal yang harus saya lakukan sebelum saya menikah. Saya masih punya mimpi untuk punya uang untuk pulang dan membangun perusahaan sendiri seperti atasan saya saat ini. “

Juliana, 29 tahun, Jawa Timur