Rumah Dimana Ibuku Berada

“Saya tidak cukup kuat untuk melihat wanita yang banyak berkorban untuk saya tapi saya tidak bersama dia secara fisik”

“Mungkin ini pengorbanan saya untuk ibu saya yang sekarang sakit di desa, menantikan kembalinya saya untuk menjaganya tapi saya tidak punya pilihan lain karena saya tidak dapat mengambil cuti dan tidak ada uang tambahan untuk tiket pesawat atau feri untuk pulang ke rumah. 2 tahun yang lalu, saya membelikannya sebuah smartphone untuk keluarga kami melakukan video call Saya hanya bisa melihat ibu saya melalui smartphone saya karena dia terlihat sangat lemah dan sedikit lemah melalui video panggil kakak saya, saya tidak cukup kuat untuk melihat wanita yang banyak berkorban untuk saya tapi saya tidak bersama dia secara fisik. Saya mengirim hampir semua gajiku ke Indonesia untuk biaya pengobatan ibu saya di rumah sakit. Ibu saya sudah tua dan hampir tidak mampu berbicara lagi, jadi setiap kali kami berbicara melalui video call, saya akan melihat wajah ibu saya seperti ini adalah video call terakhir kami. Saya dapat berbicara dengannya tentang segala hal dan saya yakin dia mengerti saya. Meskipun dia tidak bisa berbicara lagi tapi saya akan mencoba menceritakan kepadanya tentang hari saya. Saya berniat untuk meminjam uang dari atasan saya untuk tiket penerbangan ke kampung halaman saya dan majikan saya memberi saya sedikit uang bonus dari tahun lalu. Saya tidak akan menyia-nyiakan pertemuan saya dan ibu saya. Hanya Tuhan yang tahu betapa saya ingin pulang ke rumah dan mencium wajah ibuku. Saya hanya bisa berdoa untuk kesehatan ibu saya dan berharap bisa bertemu dengannya sebelum dia bernapas terakhir. “

Holis, 34 tahun, Lombok