Perjalanan Hidupku

“Saya tidak tahu berapa umur saya sekarang karena kehidupan kami di kampung halaman saya sangat susah dan kami tidak diberi kartu identitas atau akte kelahiran”

“Saya tidak tahu berapa umur saya sekarang karena kehidupan kami di kampung halaman saya sangat susah dan kami tidak diberi kartu identitas atau akte kelahiran. Ibu saya tidak mampu untuk melahirkan di rumah sakit dan dia membawa seorang bidan setempat di desa kami Saya hanya tahu bahwa saya sudah berada di sini selama 18 tahun dan sudah memiliki satu cucu di Indonesia Jadi coba kamu kira berapa umur saya sekarang? Saya tidak tahu bagaimana mahu menceritakan betapa sulitnya hidup seperti keluarga kami di desa dalam masa beberapa menit. Kami tidak pergi ke sekolah dan saya tidak tahu bagaimana membaca saat saya tiba di Malaysia dan untungnya atasan saya mengirim kami ke sekolah akhir pekan untuk belajar.

Karena saya membesar dalam situasi yang sulit, saya tidak menginginkan hal yang sama terjadi pada anak-anak saya. Saya mulai bekerja di Malaysia ketika putri sulung saya masih di sekolah rendah dan sekarang anak perempuan saya sudah menikah dan saya sudah memiliki cucu. Saya masih belum bertemu dengan cucu perempuan saya dan baru saja mendengar suaranya melalui telepon. Sulit bagi saya untuk percaya bahwa saya sudah memiliki cucu dan anak bungsu saya hampir selesai sekolah yang berarti saya bisa pulang saat kontrak saya dengan layanan pembersihan saya berakhir tahun depan. Setelah 18 tahun bekerja di sini, saya mulai melakukan cleaning service sendiri sebagai pekerjaan paruh waktu untuk mencari uang tambahan. Saya hanya melakukan pembersihan normal dan beberapa orang di sekitar daerah ini sering mempekerjakan saya di akhir pekan. Untuk mengumpulkan uang tambahan sebelum pensiun, saya bekerja 7 hari seminggu dan sekarang fokus saya adalah mengurus cucu saya dan menghabiskan sisa hidup saya di kampung halaman saya. “

Azizah, Jawa