Mengendalikan Masa Depanku

“Anak saya yang berusia 12 tahun harus bekerja untuk membantu saya di rumah.”

“Sebagai ibu tunggal, saya merasa saya adalah sumber uang untuk anak-anak saya. Kembali ke kampung halaman saya, saya tidak pernah bekerja dan sejak saat itu saya hanya mengharapkan uang dari suami saya yang bekerja di Malaysia. Beberapa tahun kemudian, anak-anak dan Saya menunggu teleponnya tapi kami tidak menerima pesan atau telpon darinya, saya mencoba menghubungi suami saya melalui telepon tapi tidak terjawab, dia mematikan teleponnya. Saya masih belum putus asa dan cuba untuk hubungi kantor majikan suami, mereka mengatakan kepada saya bahwa suami saya mengundurkan diri dari perusahaan dan bekerja di tempat lain.

Saya tidak putus asa untuk menemukan suami saya jadi saya memutuskan untuk menghubungi rekan-rekannya tapi tidak ada jawaban juga. Sejak saat itu, kami kehilangan satu-satunya sumber pendapatan kami. Anak saya yang berusia 12 tahun harus bekerja untuk membantu saya di rumah. Saya bertekad untuk bekerja di Malaysia pada waktu itu dan sampai sekarang saya masih belum pernah melihat suami saya lagi. Terkadang saya merasa kesepian dan sedih karena masalah ini tapi saya harus mematuhi takdir saya, mungkin ini hanya sebuah tes kecil untuk saya dan Tuhan percaya bahwa saya dapat menangani ini.

Syukur, sekarang saya bisa mengirim uang itu untuk anak-anak saya dan anak sulung saya yang berumur 12 tahun tidak harus bekerja lagi. Anak-anak saya dijaga oleh kakak saya dan setiap bulan saya akan mengirimkan sejumlah uang untuk biaya mereka. Saya masih marah dengan suami saya dan saya pasti tidak ingin bertemu dengannya atau melihatnya lagi. “

Sulastri, 40 tahun, Jawa