Ibu Dan Bakso

“Setiap ingat itu, saya merasa sedih.”

“Saya lahir di keluarga yang miskin sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara. Karena kondisi keuangan yang kurang, tetangga selalu mengejek dan menghina saya. Kenyang dengan segala hinaan, saya tahu saya harus berbuat sesuatu. Maka itu, sejak kelas 6 SD, saya sudah berpikir untuk bekerja di luar negeri untuk memperbaiki kondisi keuangan keluarga.

Saya akhirnya datang ke Singapura pada bulan Maret 2009. Saya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan saya sangat bersyukur memiliki majikan yang sekarang sangat baik. Mereka memperlakukan saya bagai keluarga sendiri. Contohnya, tahun lalu, ketika majikan saya mengadakan acara jalan-jalan ke Korea Selatan untuk seluruh karyawannya, saya juga diajak. Tahun ini, majikan saya bahkan mengajak ibu saya datang ke Singapura untuk berlibur! Dan yang paling penting, gaji pun cukup tinggi.

Saya pencinta mie dan ibu saya pencinta bakso. Saya ingat dulu sewaktu masih susah, setiap kali ibu ingin makan bakso, ibu hanya memesan setengah porsi dan minta kuah yang banyak. Setiap ingat itu, saya merasa sedih. Saya sangat menyayangi ibu saya dan saya tidak mau tinggal berjauhan dengan ibu, setidaknya jangan sampai lebih dari 10 tahun. Maka itu, tahun depan, saya berencana untuk pulang dan membuka kedai bakso dan mie ayam. Supaya ibu bisa makan bakso kapan pun dan sebanyak apa pun yang ibu mau.”

Sundari, 28, Lampung