Berkongsi Pengalaman dan Pandangan

“Disana, Sarjana juga belum tentu dapat pekerjaan.”

“Indonesia tidak seperti yang kita bayangkan. Ketika masih di UKM, saya masih ingat ada yang bertanya kepada saya apakah kami di Indonesia memiliki komputer dan laptop. Saya meminta mereka untuk secara pribadi datang ke Indonesia dan membiarkan mereka melihat bagaimana kami hidup di sini. Ya, Kami juga memiliki orang-orang yang tidur di bawah jembatan tapi kami juga memiliki setidaknya 20% dari 250 juta penduduk di Indonesia hidup dalam kehidupan yang mewah. Mereka yang datang ke sini bertujuan untuk memperbaiki diri dan keuangan keluarga. Salah satu faktor utamanya adalah mereka lelah menunggu kesempatan kerja yang lebih baik. Misalnya seorang pemuda yang baru tamat SMA telah menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan tawaran pekerjaan. Akhirnya, ada agen yang mendekati mereka dan mengundangnya untuk bekerja di luar negeri dengan gaji lebih baik. Mereka segera terima tawaran pekerjaan dan terbang ke Malaysia. Pada akhirnya, setelah bertahun-tahun bekerja di Malaysia, mereka kembali dan masih belum tentu memiliki pekerjaan di kampung halaman. Karena mereka datang ke Malaysia untuk bekerja dan tidak mempelajari kemahiran atau pelatihan yang sewajarnya. Selama 18 tahun saya di Malaysia, saya telah banyak memperhatikan berbagai masalah dan isu di antara pekerja migran dan berkongsi pendapat saya di blog saya di Kompasiana. Saya masih berusaha membangun sekolah ini untuk semua pekerja migran di Malaysia dan melatih mereka dengan keterampilan yang tepat dan tetap berpegang pada tujuan mereka saat bekerja di Malaysia. “

Taufiq Hasyim, Lombok

Koordinator Pendidikan Non-Formal SIKL, Penulis di Kompasiana