Bekerja Untuk Hari Tua

“Saya kehilangan semua tabungan hasil jerih payah saya, rumah saya, dan hak asuh anak-anak saya.”

“Ibu saya meninggal ketika saya berumur 5 tahun. Ayah saya menikah laki dengan wanita lain dan saat saya berumur 8 tahun, ayah saya meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu, ibu tiri saya lah yang membesarkan saya. Saya menikah di usia yang sangat muda, anak perempuan pertama saya lahir di tahun 1990. Setelah anak ketiga lahir, saya bercerai karena tidak tahan menjadi tulang punggung keluarga. Saat itu, saya tidak mengerti tentang hukum di Indonesia. Saya hanya ingat saya diminta untuk menandatangani dokumen yang ternyata membuat saya kalah di pengadilan. Saya kehilangan semua tabungan hasil jerih payah saya, rumah saya, dan hak asuh anak-anak saya.

Saya tidak punya apa-apa, hanya baju yang saya kenakan saja yang tersisa saat itu. Saya sangat sedih, tapi saya tahu saya harus kuat. Saat itu, saya bertemu dengan seorang laki-laki. Dia menolong saya untuk keluar dari situasi yang sulit ini. Dia bahkan mengajari saya untuk sholat dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Dia sangat perhatian dan sangat baik. Saya sungguh bersyukur saya bertemu dengannya. Dia sekarang menjadi suami saya, kita baru saja menikah tahun lalu.

Karena suami saya berkewarganegaraan Singapura, saya pun bekerja di Singapura. Saya bekerja sebagai petugas kebersihan. Bos saya baik, gajinya pun lumayan. Saya senang dengan pekerjaan saya. Saya bisa menabung untuk diri sendiri serta mengirimkan sebagian untuk anak-anak saya di Indonesia. Saya ingin anak-anak saya sekolah tinggi, mendapat pekerjaan yang bagus, dan memiliki hidup yang lebih baik meski mereka tidak mau berkomunikasi lagi dengan saya. Fokus saya sekarang adalah bekerja dengan giat dan menabung untuk hari tua. Saya tidak ingin meminta bantuan keuangan dari anak ketika saya pensiun kelak.”

Meliana, 41, Batam